Mewujudkan Suara Kolektif Pemain Sepakbola Yang Ideal


(Published by Top Skor Newspaper on 2 January 2014)

Kasus-kasus pemain sepakbola yang berkarier di Indonesia menjadi sorotan publik akhir-akhir ini. Mulai dari tunggakan gaji pemain hingga yang paling tragis, kematian dua pemain sepakbola asing yang bermain di Indonesia: Diego Mendieta asal Paraguay dan Salomon Begondo asal Kamerun. Kejadian-kejadian ini tentunya merusak citra sepakbola Indonesia. Tentunya hal ini menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pembangunan sepakbola Indonesia.

Tak pelak lagi, ramai-ramai publik menunjuk hidung Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai administrator dan regulator sepakbola nasional sebagai biang keladinya. Publik tentunya tidak dapat disalahkan dalam berpendapat yang menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi persepakbolaan nasional. Secara hukum, di dalam lingkup sepakbola profesional, permasalahan-permasalahan mengenai kesejahteraan pemain adalah permasalahan yang lahir antara klub dan pemain.

Pemain dan klub kemudian mengikatkan diri dalam hubungan profesional yang dituangkan dalam bentuk kontrak. Dalam konteks ini, PSSI menjalankan fungsinya sebagai regulator untuk menetapkan standart minimum kontrak (professional football players contract minimum requirements) yang harus dipenuhi misalnya harus tertulis dan para pihak harus mendapatkannya, mendapatkan keuntungan finansial (financial benefit) serta menghargai hak-hak asasi pemain.  Implementasi dari kontrak tersebut yang menjadi sumber permasalahan utama, titik klimaksnya dua pemain asing yang berkarier di Indonesia harus menjadi korban.

Idealnya, dalam memantau proses eksekusi dari kontrak tersebut haruslah terdapat suara kolektif dari para pemain. Suara kolektif tersebut kemudian membentuk suatu wadah asosiasi pemain yang berfungsi sebagai bargaining agent dalam mensupervisi pelaksanaan kontrak pemain serta mengadvokasi hak-hak profesi mereka sebagai pemain sepakbola.

Sebenarnya di dalam Statuta PSSI terbaru tahun 2013, eksistensi asosiasi pemain diakui sebagai anggota dari PSSI. PSSI tentunya tidak tinggal diam dalam menyikapi hal-hal tersebut. Perwujudannya, suara kolektif tersebut kemudian diberi ruang secara nyata untuk menyuarakan pendapat mereka sebagai anggota dari PSSI. Dengan menjadi anggota, asosiasi pemain mempunyai hak bicara dan hak suara di dalam setiap pengambilan kebijakan PSSI.  Baru-baru ini, pada tanggal 21-22 Desember yang lalu Asosiasi Pemain Sepakbola Nasional  Indonesia (yang kemudian berubah nama menjadi Asosiasi Pemain Sepakbola Indonesia) melakukan kongres di hotel atlet Century Park Senayan dan menetapkan statuta baru sebagai “dasar perjuangan” untuk dapat menjadi suara kolektif yang ideal.

Beberapa hal menjadi sorotan dalam kongres tersebut, Pertama, mengenai permasalahan kontrak yang permasalahannya “menular” ke segala aspek kehidupan sepakbola.

Pertama, PSSI mengharapkan asosiasi pemain harus menjadi suara kolektif yang ideal, dengan menjadi bargaining agent untuk para pemain yang diwakilinya. Asosiasi pemain diharuskan menjalankan fungsinya menyelesaikan permasalahan secara bipatrit (negosiasi kedua belah pihak) antara pemain, yang diwakili oleh asosiasi, dengan klub bersangkutan. Apabila fungsi ini tidak mampu menyelesaikan permasalahan, maka  Asosisasi Pemain diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan tersebut melalui mekanisme penyelesaian sengketa secara tripatrit (melibatkan tiga pihak) yakni asosiasi pemain sebagai mediator atau konsiliator terhadap  sengketa yang terjadi antara pemain dan klub. Penyelesaian ini menjadi forum komunikasi dan musyawarah yang  tujuannya menyelesaikan sengketa antara pemain dan klub untuk meraih amicable settlement.

Apabila kedua mekanisme tersebut gagal, maka fungsi PSSI sebagai administrator dan regulator sepakbola kemudian baru akan menjadi “aktif”. Dalam waktu dekat, PSSI akan membentuk suatu badan yang berwenang untuk mengadili sengketa-sengketa antara pemain dan klub secara khusus. PSSI akan membentuk National Dispute Resolution Chamber (NDRC) yang ideal sebagaimana diamanatkan oleh  The Fédération Internationale de Football Association (FIFA) sebagai induk olahraga sepakbola dunia. Konsep ini pun sesuai dengan hukum nasional kita.

Dengan demikian, konsep penyelesaian sengketa di dalam asosiasi pemain diharapkan dapat berfungsi sebagai filter masalah-masalah sebelum masuk ke ranah PSSI, yang nantinya akan diselesaikan melalui mekanisme NDRC. Melalui skema ini, PSSI akan menjalankan fungsinya sebagai safety net dalam rangka memperjuangkan kepentingan para pemain.

Untuk dapat menjalankan fungsi di atas, tentunya mutlak diperlukan suatu wadah suara kolektif yang ideal dan secara nyata dapat berfungsi sebagai bargaining agent bagi para pemain. Apabila klub dan asosiasi pemain menjadi anggota PSSI, tentunya legal standing PSSI akan menjadi kuat dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi ke depan.

Kedua, permasalahan klasik yang menjadi perdebatan adalah mengenai posisi asosiasi pemain yang menjadi anggota PSSI. Sebagian orang menyatakan dengan menempatkan asosiasi pemain dibawah federasi, maka fungsinya seketika akan menjadi lumpuh, karena tidak adanya independensi.  Klaim ini tidak sepenuhnya benar, karena justru dengan menjadi anggota maka asosiasi pemain mempunyai hak bicara dan hak suara yang berfungsi  sebagai alat penentuan kebijakan secara lebih konkret.  Rumus bahwa asosiasi pemain harus lepas dari federasi juga tidak sepenuhnya benar, karena tujuan utamanya adalah bagaimana suatu wadah asosiasi bisa berfungsi sebagai “loud speaker” dalam menyuarakan suara kolektif para pemain yang diwakilinya. Bagaimana wadah tersebut dapat bertindak secara konkret dalam menjalankan visi dan misinya yang mulia, terlepas dari apa dan siapapun nama wadah tersebut. Tentunya, dalam hal ini diskursus akademik akan terus berkembang dalam menemukan formulasi yang paling ideal dalam rangka mewujudkan suara kolektif bagi para pemain.

Ketiga, mengenai asosiasi pemain yang jumlahnya lebih dari satu. Tentunya PSSI menyambut baik apabila terbangun kesadaran masyarakat untuk berlomba-lomba mewujudkan suara kolektif yang ideal bagi para pemain sepakbola di Indonesia. Misi dan tujuan semua elemen sepakbola nasional hanya satu, bagaimana membangun sepakbola Indonesia yang lebih beradab.

Sehingga nantinya proses pencapaian dan perwujudan suatu wadah suara kolektif yang ideal akan ditentukan melalui apa yang disebut oleh naturalis asal Inggris, Charles Darwin dengan teori survival of the fittest, nantinya asosiasi pemain dinilai dari bagaimana mereka dapat mewakili kepentingan pemain dengan sungguh-sungguh.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s