Menuju Indonesia Yang Progresif: “Survivor” Abad 21


Di abad 19, Charles Darwin dalam tulisanya “On the Origin Of Species” pernah mengungkapkan bahwa “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change.”. Bahwa yang paling peka terhadap perubahan lah yang akan bertahan.[1]

Ketika Darwin berteori tentang “Survival Of The Fittest”[2] Charles Darwin berbicara tentang bagaimana proses adaptasi suatu spesies terhadap perubahan alam yang berubah-rubah menjadi kunci keberhasilan suatu spesies tersebut untuk bertahan, dan bukan dari bentuk atau besarnya spesies tersebut [3]

Ada pesan penting yang dapat diambil dari teori tersebut untuk menjelaskan pembangunan sebuah bangsa:  Untuk menjadi sebuah bangsa yang besar dan berdaulat, kita harus peka terhadap perubahan yang ada, baik dalam kancah pergaulan internasional ataupun nasional. Terutama dalam pergaulan internasional, harus diakui persaingan kepentingan menjadikan teori “Survival Of The Fittest” begitu relevan di dunia internasional dan menjadikan realita yang harus dihadapi.[4]

Cepatnya perubahan kekuataan dunia, ekonomi, politik dan kebudayaan berimbas kepada bangsa kita. Satu contoh nyata: ACFTA[5] yang sudah disepakati sejak tahun 2002 dan sedianya diimplementasikan pada awal tahun 2010, Indonesia tetap menyatakan ketidaksiapannya dengan alasan masalah daya saing. Apakah kita akan tidak siap terus?  [6]

Belum lagi apabila kita bicara masalah-masalah nasional. Lengkaplah sudah alasan mengapa masih terus dibutuhkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Faktor yang menjadi penentu adalah “Pembentukan Mentalitas Bangsa” [7]. Bangsa Indonesia harus dapat berpikir progresif dan adaptif. Peka terhadap perubahan dan dapat memberikan solusi sebagai perwujudan dari proses adaptasi menjadi sebuah kewajiban agar kita dapat menjadi bangsa yang maju. Singkatnya dibutuhkan “modernisasi cara berpikir”. [8]

Sejarah telah membuktikan, dengan kerangka berpikir progresif sebuah bangsa menjadi “the Fittest”. Cina, yang sebelumnya negara yang terisolasi dan menganut paham komunis[9], maju karena progresivitas pemikiran yang dibawa oleh Den Xiao Ping[10],  yang memulai perjuangannya di usianya yang sangat muda.[11] Den Xiao Ping membawa progresivitasnya dengan jalan reformasi yang radikal [12].

Cina harus kita akui sudah menjelma sebagai sebuah “spesies” yang paling “peka terhadap perubahan”[13] Padahal, dahulu kita berdiri bersama-sama Cina di era demokrasi terpimpin dengan mendirikan poros Jakarta-Peking yang disegani oleh dunia.[14]. Sekarang?  Kita mengatakan bahwa kita belum siap.

Atau kita bisa juga belajar dari sejarah AS: Pada masa krisis pada tahun 1900-1920, kaum progresif yang dipelopori kaum muda datang membawa solusi: berpikir luas, terbuka, profesional dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang dengan dilandasi oleh ilmu pengetahuan, kompetensi, teknologi dan sains.[15] Sampai pada akhirnya, menghantarkan pemimpin pergerakan progresif AS, Theodore Roosevelt menjadi presiden termuda sepanjang sejarah AS. [16]

Sejarah di atas telah mengajarkan kita bahwa generasi muda yang progresif menjadi kunci. Sejarah di atas juga telah mengajarkan kita, bahwa sebenarnya kita mampu menjadi “the Fittest” dengan segala potensi yang kita punya. Mari, kita buka wawasan dengan dilandasi  pemikiran progresif dengan basis intelektualitas yang bertujuan untuk membangun bangsa: Interkoneksitas untuk melihat koneksi-koneksi yang ada dalam sebuah perubahan, mengenali dengan cepat perubahan aspek kebangsaan yang terjadi dan merumuskan solusi untuk melangkah maju ke depan sebagai proses adaptasi dari perubahan tersebut. Niscaya, kita akan dapat melakukan “transfer of knowledge” sebagaimana yang dilakukan oleh Cina dan Amerika.

Bung Hatta pernah berkata dalam pidatonya, bahwa generasi muda adalah pelopor setiap perjuangan and harapan bangsa.[17] Kuncinya sekarang, marilah kita mengedukasi diri kita sendiri, membuka wawasan agar tidak “narrow-minded”, percaya bahwa kita sebagai generasi muda adalah pilar perubahan dan  sadar bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sesuatu yang dinamis. Bukan hal yang mustahil nanti semua bangsa akan menjadi “antek” kita dan orang akan berhenti menuduh sebaliknya. [18]

Jangan lupa, bahwa perjuangan para pemuda yang berpikiran progresif telah membuahkan reformasi total bagi bangsa Indonesia di tahun 1998. Penting untuk selalu diingat, perjuangan adalah kata awal tanpa akhir.

Bung Karno pun dengan lantang pernah berkata: “Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Siapkah kita sebagai generasi muda pelopor perjuangan bangsa untuk mengguncang dunia dan keluar sebagai “Survivor”


[1] Darwin, Charles. On The Origin Of Species. 1869.Oxford University Press. UK:1998

[2] Meminjam istilah dari Herbert Spencer,  seorang filsuf Inggris yang mencoba mengaplikasi teori Darwin ke kehidupan Sosial. Bukunya berjudul Principles of Biology (1864).

[3] Ibid

[4] Pati Djalal, Dino. Pemimpin yang Nasionalis dan Internasionalis. http://www.dinopattidjalal.com: 01 April 2008

[5] Asean China Free Trade Agreement. Perjanjian perdagangan bebas antara Cina dan Negara-negara ASEAN termasuk Indonesia.

[6] Lihat Portal Resmi Republik Indonesia. Pemerintah Siapkan Renegosiasi 150 Pos Tarif ACFTA. http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=11870&Itemid=693

[7]Op.Cit. Pemimpin yang Nasionalis dan Internasionalis

[8] Ibid

[9] Andrew J. Nathan and Robert S. Ross, The Great Wall and the Empty Fortress. New York: W.W. Norton & Company, 1997 hal 21-26.

[10] Hasil reformasi yang dibawa oleh Den Xiao Ping dalam bidang ekonomi: GDP China tumbuh di angka 9.3 percent pada tahun 1979-1993 yang mana rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia pada waktu itu hanya 2.6 percent.Kemudian dalam 15 tahun GDP Cina naik 4 kali lipat. Lihat Fei-Ling Wang, “To Incorporate China: A Policy for a New Era,”The Globe and Mail, V21” . Winter, 1998. hal 68

[11] Den Xiao Ping pertama kali bergabung dengan Perkumpulan Pemuda Komunis (Communist Youth League in Europe) pada usianya yang ke 17 pada waktu dia belajar di Perancis pada tahun 1921. Lihat

Evans, Richard. Deng Xiaoping and the Making of Modern China and Hong Kong: East and West Culture Publishing: 1997: hal 44

[12] Den Xiao Ping mereformasi total kebijakan politik Cina yang tertutup, dengan cara membuka wawasan internasionalisasi, menjalin banyak hubungan internasional dan memberikan kesempatan investor asing untuk masuk ke Cina.  Op.Cit The Great Wall and the Empty Fortress

[13] To learn knowledge and truth from the West in order to save China” adalah filosofi yang selalu dipegang oleh Den Xiao Ping

[14] Bung Karno. Demokrasi terpimpin, milik rakyat Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 2001. hal 16

[15] Hofstadter, Richard. The Progressive Movement: 1900-1915. Touchstone Book: 1986

[16] Lihat US Presidential History on official White House webpages : http://www.whitehouse.gov/about/presidents/theodoreroosevelt . Theodore Roosevelt menjabat sebagai presiden pada usianya yang ke 42.2 setelah menggantikan presiden William Mckinley yang dibunuh. Sebelumnya dia menjabat sebagai wakil presiden.

[17] Bung Hatta, Kumpulan Pidato II. Jakarta: Idayu Press.PT & YPS. 1983. hal 17

[18] Op.Cit. Pemimpin yang Nasionalis dan Internasionalis. Mengutip pendapat Dino Patti Djalal, konsep “Zero enemy million friends”.

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Menuju Indonesia Yang Progresif: “Survivor” Abad 21

  1. Bung Tito makin asik aja nih dibacanya….sukses slalu…another good artikel nih untuk kemajuan bangsa ini agar tidak jalan ditempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s